Meita sudah meluncur
ke rumah Blonde dengan skuter matik keluaran terbaru. Jarak rumah Blonde dengan
rumah Meita cukup jauh juga si. Kira-kira sepuluh kilometer.
”Tin-tin-tin.”
Meita
membunyikan klakson motornya setibanya di depan rumah Fani ”Blonde”. Biasanya
Meita langsung turun dari motornya sambil menggedor-gedor gerbang rumah Blonde
yang terbuat dari besi tak lupa dengan teriak-teriak memanggil nama Blonde.
Blonde
sudah hapal dengan kelakuan temannya yang satu ini jadi dia sudah maklum dan
hanya bisa ketawa melihat tetangganya ngomel dengan ulah Meita.
”Rambut
elo benerin dulu tu Mih. Apa gue harus pinjemin elo sisir?”
Dasar
si Meita emang muka tembok tanpa ragu-ragu dia mengiyakan tawaran si Blonde.
Lima
menit mereka habiskan hanya Meita baru saja menerima amplop yang di dalamnya
berisi kertas yang menyatakan apakah ia lulus ujian nasional SMA tahun ini.
Tentu saja perasaannya deg-degan sekali sebab tulisan di kertas itu sangat
menentukan apakah usahanya belajar selama tiga tahun di SMA Negeri 1 Kendatala
sia-sia atau tidak. Dengan nafas yang masih tersengal-sengal karena dipeluk
oleh teman-temannya dengan kencang sembari meluapkan ekspresi kegembiraan dan
rasa syukur sebab mereka sudah dinyatakan lulus terlebih dahulu daripada Meita.
Baru beberapa detik Meita merobek amplop dan mengintip isinya, Meita langsung
melonjak kegirangan. Mama Meita menjadi sasaran kegembiraan dia. Tante Restanti
hanya geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah lucu putri sulungnya yang masih
tetap menggelendot manja di pundak Tante Restanti.
Tiba-tiba
lagu pretty boy dari M2M mengalun dari handphone Meita yang berada di saku
roknya. Getaran ringtone itu membuat Meita geli lalu cepat-cepat melihat sms
dari siapa yang dating. “Mei mama pulang dulu ya. Kalau kamu mau main dulu sama
temen-temen kamu mama izinin kok,” ujar Tante Restanti. ”Oke sip Ma”, timpal
Meita sembari melihat sms yang masuk.
From :
Becak (+6285740968***)
Message :
”Gimana Kodokku Cantik kamu lulus apa gak?
Meita
hampir saja lupa memberi tahu Genta pacarnya tentang kabar gembira ini. Untung
saja Genta sms disaat yang tepat.
Buru-buru
Meita mengabarkan bahwa ia lulus kepada Genta. Genta adalah pacar Meita yang
baru duduk di kelas sepuluh satu sekolah dengan dia.
Euforia
kelulusan kelas dua belas telah usai sekarang saatnya mereka yang dinyatakan
lulus untuk memutuskan akan melanjutkan ke perguruan tinggi, melamar pekerjaan
lalu bekerja atau pilihan lain yang mereka tentukan sendiri.
”Ma
aku bosen di rumah ni. Bingung mau ngapain. Pengen main tapi kok temen-temen
pada sibuk mendaftar kuliah,” ujar Meita sambil menggerutu.
”Ya
udah sono kamu juga ikutan mereka aja daftar. Nemenin mereka toh juga gak papa
si Mei? Jangan mentang-mentang kamu udah tenang gara-gara keterima PMDK. Kamu
juga perlu tahu gimana susahnya cari kuliah,” jawab Tante Restanti.
”Iya-iya
Ma. Aku turutin saran mama deh. Lagian si Genta juga masih sekolah paling,”
ujar Meita.
Meita
mutusin buat nelpon Fani ”Blonde” sahabatnya sejak TK.
”Hallo
Blond planning lo hari ini ngapain aja?”
“Hmm
apa Mih suara lo kagak kedengeran ni. Speaker hp gue soak,” jelas Blonde sambil
nguap dan kucek-kucek mata.
”Ah
elo mah molor mulu. Elo mau ngelengkapi berkas-berkas pendaftaran gak? Hari gue
lagi baik hati mau banget nemenin elo Blond.”
”Eh
eh tunggu. Elo ngomong apa Mih? Tumben elo baik gini. Lagi kumat apanya ni?
Jangan-jangan elo ada pamrih ya?” selidik Blonde.
”Ih
elo parno mulu pikirannya ke gue. Gini-gini gue jelasin detailnya. Gue hari ini
boring banget gak ada kerjaan. Tu si Becak juga lagi sekolah. Gristi adik gue
juga sekolah. Mama kerja. Masak gue di rumah sendirian ma kura-kura gue. Bisa
lumutan ni badan.”
”Oh
gitu. Iya deh kamu ntar temenin gue ke SMA ya? Gue mau cari piagam gue yang
masih disimpen sama Pak Tamto. Itung-itung kalo elo lagi mujur elo bisa ketemu
sama Genta.”
”Oke
siip Blond. Dua puluh lima menit lagi gue sampai ke rumah elo. Sono buruan elo
mandi.”
”Beres
Mih.”
Lima
untuk ngobrol di depan rumah Blonde. Blonde melirik jam monol square yang melingkar
di pergelangan tangannya.
”Mei
ayo buruan berangkat udah jam sepuluh ni.”
”Ayo
Blond. Pake ni helm.”
”Gue
naik ke motor elo sekarang ya?”
”Iya
Blond. Pegangan ya. Gue mau pacu ni motor sekenceng mungkin.”
”Dasar
gila elo. Ati-ati. Awas ya gue belum nikah sama Mas Fredo.”
Mereka
berdua langsung berubah mimik mukanya ketika sampai di depan SMA Negeri 1
Kendatala.
”Sumpah
Mih gue bangga banget sempet bisa sekolah di SMA segede ini. Apalagi kita
menghuni kelas KEDUBES ID dengan segala kegokilannya.”
”Haha
iya dong.”
Tiba-tiba
suara yang familiar di telinga mereka mengagetkan lamunan dua anak-anak yang
lagi kegirangan ini.
”Meita
? Fani ? Mau ngapain ?”
”Ehm
oh,” jawab mereka setengah kaget terbata-bata.
”Bu
Gik ? Kita ke sini mau ngurus piagamnya Fani Bu.”
”Iya
Bu. Piagam saya masih di sekolah dan disimpan Pak Tamto.”
”Ya
sudah selesein dulu kepentingan kalian. Semoga sukses ya.”
”Iya.
Amin dan makasih ya Bu.”
Kira
sudah dua jam mereka berada di SMA Negeri 1 Kendatala dan urusan Fani sudah
selesai namun mereka belum juga ketemu dengan Genta.
Mereka
mutusin buat kangen-kangenan dulu ke kantin Pak Alex. Jaman-jaman ngutang es
dan gorengan habis pelajaran olahraganya Pak Wal, tambah sate kerang tapi gak
bayar, mie ayam minta tambahan suwiran daging ayam. Pikiran mereka melayang
kepada kenangan masa lalu. ”Nice and sweet memory,” batin mereka.
“Mei
itu si Genta.”
“Gentaaaa,”
panggil Mei.
Genta
masih kebingungan karena belum menemukan asal suara yang memanggilnya. Genta
memutuskan untuk berlalu begitu saja dan tak menghiraukan asal suara tadi.
”Gen
kayaknya tadi ada yang manggil kamu deh,” tanya Aria teman Genta.
”Iya
sih Yak tadi aku juga denger. Tapi aku bingung siapa yang manggil aku. Suaranya
kayak familiar banget di telinga kita ya?”
”Hmm.
Bener sih katamu Gent.”
”Tadi
kan kita terburu-terburu takut telat lalu dimarahi Pak Wal.”
”Ya
udahlah Gen lupain aja suara tadi.”
Genta
dan Aria menganggap suara tadi hanya halusinasi dan imajinasi mereka belaka.
Padahal tadi kan memang ada suara yang memanggil Genta. Bagaimana kalau Meita
tahu soal ini ya? Pasti dia langsung sedih dan merasa sudah tak ada artinya di
hati Genta.
Meita
memilih untuk sms Genta terkebih dahulu.
To :
Becak (+6285740968***)
Message :
“ Cak kamu tadi kok gak noleh si waktu aku panggil?”
Lima
menit kemudian balasan dari Genta diterima Meita.
From :
Becak (+6285740968***)
Message :
“Apa Kodok ? Kapan kamu manggil aku ? Kamu ke sekolah tadi ?
Sepuluh
menit kemudian Genta menerima balasan pesan dari Meita
From :
Kodok (+6285727802***)
Message :
”Alah kamu sama suara pacar sendiri aja lupa. Ya uda deh mending ngurusin cewek
laen aja sana !!!! L”
Maksud
Meita mengirim pesan singkat semacam itu adalah agar pacarnya mengubah sikap
playboynya yang selama ini sukar dihilangkan.
Sudah
seminggu lebih Genta dan Meita tidak kontak-kontakan. Keduanya kukuh
mempertahankan pendapat masing-masing. Mereka tidak ada yang mau saling
mengalah. Ego mereka berdua memang gede banget.
Fani
”Blonde” sebagai sahabat Meita tak tega melihatnya. Ia berinisiatif untuk
menasehati Meita.
”Mei
udahlah kamu yang umurnya lebih gede daripada dia mendingan ngalah dikit gak
papa lah. Toh ini juga buat kepentingan kalian berdua.”
”Blond
aku udah capek. Selama setahun lebih kita pacaran sikapnya gak
berubah-berubah.”
”Iya
itu konsekuensi elo terima dia jadi pacar kamu. Elo kudu siap nerima dia apapun
keadaannya.”
”Iya-iya
!! Hati gue sebenarnya gak tahan juga lama-lama didiemin ma dia mulu. Gue
telpon dia deh.”
Meita
memencet tombol di handphone Nokia E 51 miliknya. Sudah bisa ditebaklah nomor
siapa yang dia hubungi. Baru beberapa detik saja sudah ada tanda bahwa nomor
Genta aktif. Entah kenapa selama tiga menitan kuping Meita ditempelin di
speaker handphonenya yang ia dengar hanya lagu ” I Will Fly ” kepunyaan Ten 2
Five.
”Ni
anak ke mana sih? Ditelepon gak diangkat-angkat. Bangga banget dia bikin idup
gue kayak gini. Dasar cowok !!!” umpat Meita di batin.
Tak
disangka di ujung telepon muncul suara serak cowok yang membuat jantung Meita
berdegup kencang.
”Napa
Kodok tumben nelpon aku? Udahan ya marahnya ?”
”Ih
pede banget kamu Cak. Maksudku nelpon kamu tu, ntar malem kita ketemuan di kafe
tempat biasa. Jam tujuh kamu jemput aku ya !”
”Telpon-telpon
malah nyuruh-nyuruh. Huu dasar kamu Kodok jutek J. Kamu dandan yang cantik ya.”
Emmuacch. Bye.”
Mulut
Meita tersekat mendengar kalimat penutup yang keluar dari mulut Genta. Dia
hanya bisa menelan ludah dengan muka berekspresi kaget.
Sudah
tak sabar Meita menanti pukul 19.00 WIB. Dari tadi dia hanya mondar-mandir
kamar dan teras rumah.
”Mei
pakaian kamu dirapiin dulu tu. Ngapaian sih diberantakin semua. Pakai
dikeluarin dari lemari semua??” omel Mamanya.
”Upps
iya deh Ma. Tadi Meita lupa sih. Saking semangatnya mau ketemu Genta.”
”Ciee
anak mama lagi girang kayaknya malem ini.”
Gristia
adik Meita pun ikutan nimbrung.
”Kak
nanti jangan lupa Grist titip silver queen chunky bar ya?”
”Ih
enak aja kamu nyuruh-nyuruh aku ?”
”Iya
kamu paling nanti juga gak beli kan ? Paling kamu juga nanti dikasih sama Kak
Genta. Ihiiir. Liat tu pipi tembebmu berubah merah kayak kepiting rebus J”
Deru
knalpot menghentikan pembicaraan tiga perempuan sedarah tersebut.
“Ma,
Grist Meita berangkat dulu ya.”
”Iya
ati-ati,” jawab Tante Restanti dan Gristia serempak.
Angin
malam yang semilir menyelinap masuk ke kulit yang membalut tulang-tulang yang
menyusun badan Meita.
”Kamu
kedinginan ya Kodok?”
”Ih
sotoy banget kamu Cak,” jawab Meita gengsi sehingga ia terpaksa berbohong.
”Gak
usah bohong deh. Udah ketahuan tangan kamu dingin kok. Pakai jaket aku ya?”
Awalnya
Meita enggan mengiyakan tawaran Genta. Akhirnya ia mau juga setelah dipaksa.
Mereka
memilih tempat duduk dengan view keramaian malam jalan di kota Kendatala.
Obrolan
mereka pun mengalir ringan dan penuh canda tawa yang mencairkan suasan kebekuan
selama seminggu lebih ini.
”Cak
apakah kamu masih akan sayang ma aku kalau aku nanti berangkat kuliah ?”
”Iyalah
Kodok sayang. Aku akan setia menjagamu. Karena rasa yang sudah lama tumbuh ini
sulit untuk dilenyapkan. Telah lama kusimpan di tempat khusus dalam hatiku.”
”Kamu
gak lagi ngegombal kan ?”
”Mana
bisa aku gombal Kodoook ?”
”Idih
keliatan deh boongnya. Jelas aja kamu pintar ngegombal. Kamu aja udah terkenal
playboy gitu kok. Hehehehe.”
”Haha
sudahlah gak usah bahas itu lagi.”
Mereka
menikmati dinginnya malam berdua.
Malam
itu adalah malam yang indah bagi mereka pasangan yang tengah menikmati indahnya
cinta J.
Dua
bulan berlalu.
Meita
sudah resmi menyandang status sebagai mahasiswi STT Telkom Bandung setelah
melalui serangkaian acara OSPEK.
Sejauh
ini hubungan Meita dan Genta lancar-lancar saja. Terkadang muncul masalah-masalah
yang membuat hubungan mereka semakin indah. Masalah itu mereka hadapi dengan
mudahnya.
Namun
sayang. Baru dua bulan lalu merayakan dua tahun hubungan mereka, Genta
tiba-tiba saja mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan mereka.
Meita
tentu saja kaget bukan main dengan keputusan tiba-tiba dan sepihak yang diambil
sama Genta.
Meita
sedih banget. Dia gak bisa bohongin perasaannya kalau dia sudah sayang banget
sama Genta. Dia gak ngira Genta bisa nglakuin hal setega ini padanya. Genta
sanggup buat ngrobohin tembok cinta kokoh yang sudah mereka bangun selama ini.
Bandung,
23 Desember 2010
”
Orang yang aku sayang ninggalin aku karena jarak yang misahin kita. Dia udah
punya penggantiku, tapi aku senang karena dia tetap kembali ke aku seberapapun
jauhnya dia pergi. Awalnya aku gak peduli dengan orang lain selama aku bahagia.
Tapi ternyata tetap sakit, aku sakit melihat dia dengan yang lain daripada
ketika aku melepasnya. Kemudian aku sengaja membuat dia mau atau tidak akan
tetap melepas tanganku. Dan sekarang usahaku berhasil, harusnya aku
senangkan???????
Tapi
kenapa aku sakit yah???? Ya Allah aku sakit. Menyadari kalau kali ini aku
memang benar-benar sudah kehilangan dia. Maafin Meita ya Allah. Meita menangis
malam ini. L ”
Kalimat-kalimat
itu yang Meita tulis di diarynya. Malam itu Meita ngeluarin semua uneg-uneg
dihatinya. Air mata pelan-pelan meluncur dari pelipis matanya.
”Arrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrggggggggggggggggggggggh
Genta jahaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa !!!!!!!! L ” teriak Meita.
”Apa
si salahku ke kamu Gen?? Kok kamu tega banget ma aku. Apa kamu gak tau ya? Aku
sayang banget ma kamu. Udah berkali-kali kamu nyakitin aku tapi aku maafin kamu
terus kan? Sering banget aku dianggep bodoh ma temenku hanya gara-gara
kelakuanmu???Gilaag banget ya aku bisa pacaran ma playboy .Busuuuuuk.” TT
Guling
jadi sasaran empuk kemarahan Meita. Dicabik-cabik, dipukuli, dibentur-benturkan
ke tembok. Parah banget pokoknya.
Paginya
mata Meita sembab dan menghasilkan mata panda yang menghiasi muka manisnya.
Pikiran
Meita nglantur kemana-mana. Konsentrasinya buyar.
”Jadi
sudah begini adanya ya?? Hemmmmmmmmmmmmmmmmmph..Salaaah aku ternyata. Ya ya I
see.. I know I’m nothing. Sadar kok . Mei Mei Meita. Inget Meit.” L
Tiap
hari selalu saja begitu. Meita menuhin diary, status di jejarsos (jejaring
sosial) seperti facebook, twitter, blogg, ym, bbm, ovi, dll tentang perasaan di
hatinya.
”Everything
change. Everything falls apart. Life must go on. And I can’t stuck here. I’ll
do recover my heart, and my life again. Everything. Don’t worry. I’ll be fine.
J”
”Sepertinya
memang fondasi hubungan kita yang sudah rapuh dari awal. Maunya gini gini gini
gini. Tapi gak ada guna. Gak ada perubahan sedikitpun dari Genta. Yasudahlah
aku saja yang berubah. Berubah sebisa mungkin belajar gak sayang lagi ke dia.”
”I
can keep my eyes just for him. Aku yang terlalu sayang atau bego ya ?? Kenapa
aku bisa ngertiin kalau dia sebrengsek itu. Dan aku peduli. Hmmmp.. Kayaknya
ada yang salah dengan aku.”
Dan
ini adalah tulisan yang paling menohok.
”
Dear Genta.”
”Aku
pernah bilang seberapapun sulitnya hubungan ini. Meski akan banyak hati yang
terluka karena kita. Kita tau, kita gak segampang ini dipisahin. Masih akan ada
banyak pelangi setelah hujan. Walaupun sudah punya yang baru masing-masing
nantinya. Rasa kita masih sama. Masih ada. Dan masih dalem. Sekalipun jarak
yang misahin. Kita pasti kembali lagi. Anything, that words always resound in
my head. Dan cuma itu yang aku yakini. Aku sayang kamu apapun yang terjadi (my)
love is blind. How many times you hurt me ?? I don’t know.. Sayangku ke kamu
dah bener-bener nutupin rasa sakit buat hatiku. Mungkin Allah belum izinin
kita. Allah pasti punya jalan yang indah buat kita. Allah tahu gimana rasa
kita. Aku yakin Allah tahu. Izinkan aku sayang kamu karena Allah ya ?
T_______T
T_______________________________________T
My
head is telling me not to love you but my heart is telling me something
different.. AWWWWWWWWWWWW








